Percakapan Penting

Ketika menulis ini, aku sedang diliputi rasa bingung. Antara ingin bersedih, sekaligus senang. Sekitar 30 menit yang lalu, handphone ku berdering pertanda panggilan masuk.
Dari teman kantor. Oh iya, kabarnya dia sedang mencoba mendekatiku. Sebenarnya aku menjadi sangat canggung ketika rumor dia menyukaiku mulai tersebar luas seantero kantor. Oleh karena itu, mendadak aku menjadi pusat perhatian, dan aku sangat tidak menyukai itu. Jadi sebisa mungkin aku berjaga jarak dengan dia. Awalnya dia seperti tidak mempermasalahkan orang-orang kantor yang seringkali ngecengin kami. Namun, diam-diam aku memperhatikan sepertinya dia mulai menjauh dariku ketika di kantor. Seperti berjaga jarak. Aku mulai berpikir apa aku ada salah ke dia, ya?

Tapi hari ini, dia tiba-tiba menelponku.

“Iya, halo?”
“Kenapa sih, tadi? Kok disidang?”
“Hah? Sama pak Pri? Kok tau?”
“Telingaku banyak, mbak,”
“Hahaha…”
“Ayo semangat dong, masa kerja baru sebentar udah sedih,”
“Tau darimana kalo aku sedih?”
“Ya keliatan lah, mbak, kenapa sih ada masalah apa?”
“Enggak sih, mas, cuma salah laporan aja tadi, agak miss,”

Saking canggungnya, aku selalu panggil dia Mas, padahal umurnya lebih muda 2 tahun dari aku.

“Inget nggak siapa yg sukanya bilang, ‘Ayo dong semangat dong’?”
“Siapa? Si bos?”
“Iya kan dia sukanya bilang gitu, jadi kamu juga harus semangat. Jangan down, tenang aja. Aku liat-liat emang kamu suka sendiri sih mbak, suka diem aja di kantor.”

Ketika dia bilang gini. Aku jadi memutar bola mataku. Kaget ternyata anaknya sebawel itu.

“Itu soalnya efek mau haid sih, mas,”
“Membela diri gara-gara haid, dasar,”
“….”
“Boleh sih mood ancur karena haid, tapi jangan dibawa ke kerjaan lah. Gak baik nanti efeknya. Buat generasi besok juga nggak baik loh, hati-hati.”
“…”
aku diem karena nggak tau harus jawab apa.
“Mbak, kamu kerja pasti punya tujuan, kan?”
“Iya…”
“Nah, pasti. Makanya, semangat kejar tujuannya. Banyak nanya, nggak papa. Asal memahami. Aku juga bentar lagi mau resign, mbak,”

Disini, aku benar-benar kaget. “Loh kenapa?”

“Cari pengalaman lagi. Kan disini sudah belajar masak. Hehehe.”

Dia ini anak di bidang produksi cake, karena tempatku bekerja adalah bergerak di bidang kuliner.

“Jangan sedih, ya? Hahaha,”
“Lah, ngapain juga sedih? Hahaha,”
“Udah, pokoknya mbak, aku cuma bisa bantu semangatin aja, aku nggak ada hak apa-apa ke kamu. Pinter-pinter ambil hati nya si ibu. Karena, pas ibu nerima mbak kerja disini, berarti ibu udah percaya ke mbak. Kesalahan-kesalahan sebelumnya jangan diulang lagi deh,” dia mempertegas lagi. Ibu yang dimaksud adalah owner kami, yang sedikit cerewet. Aku benar-benar diam tanpa kata. Ucapannya seperti jarum yang menusuk ke dalam diriku. Malu, sih, karena seorang aku yang berumur 21 ditegur anak berumur 19 tahun. Tapi aku senang, dia nggak menyudutkanku. Dia memberi arahan yang apa adanya meskipun terkesan seperti ngomel.

“Iyasih, mas,”
“Soalnya, mbak, semua pada nanyain ke aku. Kenapa sama kamu? Dikira, karena aku. Lah padahal kan aku nggak ngapa-ngapain kamu.”
“Hahaha suka ngawur semua,” ini ketawaku sudah benar-benar hambar. Aku cuma ingin menghargai dia yang mencoba melawak.
“Pokoknya, mbak, aku nggak mau lagi denger kamu ada masalah. Aku nggak mau lagi denger ada yang nanya ke aku ‘Eh itu si Adel kenapa sih? Eh Adel itu kamu apain?’ itu, ya, aku nggak mau. Ya pokoknya dibikin enjoy lah.”

“Boleh di luar diem, tapi kalo di kerjaan nggak boleh diem, sini samperin aku. Aku ajarin caranya rame gimana. Pokoknya, jangan sedihnya dibawa-bawa ke sini. Aku nggak mau.”

“……. ”
“Halo?”
“Mas, sumpah, aku gak tau harus ngomong apa,”
“Nggak usah ngomong apa-apa, mbak cuma butuh dengerin aja.”
“Kamu kok baik sih, mas?”
“Aku cuma mau ngehibur kamu. Aku tau kamu bingung mau cerita ke siapa. Sini, cerita ke aku. Aku orangnya blak-blakan, mbak, tapi kamu malah tertutup sama aku. Curang!”

Tuhan, rasanya ingin nangis. Disaat-saat begini, Kau beri aku orang yang sebawel itu. Orang yang tau bahwa aku cuma butuh support. Di tengah ketidak percayaan diriku menghadapi berbagai kendala yang muncul, justru dia yang datang dengan tulusnya. Orang yang selalu baik padaku, namun aku seringkali menghiraukannya.

“Makasih, mas..” akhirnya, hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutku. Masih dalam keadaan duduk, menempelkan handphone di telinga kanan.
“Makasih buat apa?”
“Ya makasih pokoknya, udah baik ke aku.”
“Aku nggak butuh makasihnya kamu, aku butuh hasilmu, mbak.”
“Iya, mas, Insyaa Allah..”

Mungkin tulisan ini adalah tulisan paling buruk versiku. Tapi seperti itu kira-kira percakapan di telepon. Aku nggak bisa menyimpulkan apapun. Cerita ini benar-benar terjadi. Kurasa antara aku dan dia sama-sama lega setelah percakapan singkat ini berakhir. Terlebih aku yang saat ini memang sedang down tertimpa kendala pekerjaan. Aku adalah orang yang sulit membaur. Sangat introvert yang suka menyendiri dan menutup diri. Tapi, satu hal yang kusadari, sebesar apapun sifat introvert yang kamu punya, tidak akan bisa membuat kamu berdiri sendiri, yang mana, kamu akan selalu membutuhkan orang lain, satu orang saja, yang tanpa perlu kamu mengeluh dan mengaduh, dia akan benar-benar memahami bagaimana kamu membutuhkan dukungan saat itu juga.

Iklan

Hei

Hei. Senang mengenalmu. Senang bertemu denganmu. Seseorang yang tak kusangka akan semenarik itu.

Tetaplah kamu seperti ini. Yang tak tahan untuk tidak usil ketika melihatku murung. Yang akan gemas ketika melihatku memelas. Yang dengan lembut menyemangati ketika ku sedang mengejar deadline.

Hei. Jangan senyum dulu. Meski begitu, kamu adalah tetap yang paling menjengkelkan. Ingat waktu ku terjatuh karena terpeleset di tanah. Bukannya menolong, kamu malah tertawa paling keras. Aku kesal tapi juga malu. Karena setelah itu kamu yang berjongkok untuk mengecek lukaku, meski setelah itu kamu coba tekan untuk memastikan sakit atau tidak. Kalau aku reflek memukulmu, jangan salahkan aku. Salahmu karena itu tindakan bodoh, tapi anehnya aku malah tertawa. Aneh.

Hei. Kenapa sekarang senyummu makin melebar? Jangan begitu, nanti aku malu. Kalau kamu tau, masih banyak hal yang membuatku jengkel denganmu. Kamu yang tiba-tiba mencubit hidungku saat ku sedang tidur, atau kamu yang tiba-tiba menyenggolku saat ku sudah berwudhu, atau kamu yang pandai bersandiwara dan terus membohongiku ketika sedang bermain werewolf bersamaku.

Aku tidak bisa berhenti membayangkan perlakuan-perlakuanmu yang menyebalkan itu. Entah kagum, entah sayang. Yang pasti kamu berhasil menarik perhatianku. Berhasil membuatku melihatmu dengan cara yang berbeda.

Hei. Ada yang ingin kusampaikan. Sesuatu yang entah kamu sadari atau tidak. Sesuatu yang selama ini kucoba untuk tak menyuarakannya. Tapi aku tidak bisa memastikan apakah sesuatu itu akan sampai padamu? Apakah sesuatu itu akan berbalas padaku? Bagaimana jika kamu tidak? Bagaimana hanya aku saja?

Hei. Tenang saja. Yang ingin kusampaikan itu baru hanya sebatas inginku saja. Kamu tidak perlu cemas, tidak perlu takut kita akan berubah menjadi canggung. Kamu masih bisa melawak di depanku, mengusiliku, menggandeng tanganku, memperhatikanku, tanpa takut akan ada sesuatu diantara kita. Tenang saja.

Aku mohon untuk tetap seperti ini. Menjadi kamu yang selama ini bersamaku. Kamu yang tidak kutemukan di diri orang lain.

– Adelia, Desember 2018

Tembakau?

Sampai kapan pun aku nggak suka laki-laki berbau tembakau.

Kejadian ini berlangsung pada pertengahan Juli tahun 2018, dimana saat aku tidak sengaja mengupload instagram story yang isinya adalah sedikit potretan video aktivitas keluarga kecilku. Aku awalnya nggak ngeh, bahwa di dalam video itu secara tidak sengaja terekam ayahku yang sedang mengapit sebatang rokok di sela jari-jarinya.

Iya, ayahku perokok. Aktif.

Sudah biasa bagiku menyaksikan ayah membakar lintingan tembakau itu. Saat beliau sedang santai, bangun tidur, setelah makan, sebelum berangkat sholat Jum’at, bahkan dalam keadaan panik pun rokok lah yang beliau cari. Sampai-sampai aku pernah bertanya, “Apa sih rasanya ngerokok?” pertanyaan ini terlontar begitu saja ketika aku sedang mengamati ayah menyedot dan menghembuskan asap secara berulang kali.
Dan jawaban beliau kira-kira seperti ini, “Wah, gak bisa diungkapin dengan kata-kata. Pokoknya, mah, nikmat.”

Oke, balik lagi ke instagram story. Selang beberapa menit kemudian notifku berbunyi, menampilkan pemberitahuan bahwa ada yang menanggapi story ku tadi. Temanku ternyata. Dia ini cowok. Isi pesannya begini: Ayahmu ngerokok? Ah, iso diajak ngopi bareng iki.

Aku paham betul kenapa dia bisa begitu. Karena dia tau aku nggak suka sama yang namanya perokok. Bisa dilihat pesannya yang tajam pada kata rokok, seolah-olah dia melihatku sok-sok-an anti rokok sedangkan ayahku sendiri merokok.

Iya, aku sangat mengerti kalau rokok sangat berbahaya bagi jantung manusia. Makanya, sejak saat itu aku memutuskan untuk memasukkan syarat tidak merokok sebagai kriteria calon pasanganku. Tapi ternyata cukup sulit buat kita tahu dari awal kalau si cowok yang sedang dekat sama kita ini perokok atau bukan. Misalnya, kita lagi menjalani suatu masa pendekatan dengan seorang cowok. Setiap jalan atau keluar sama kita, dia nggak menunjukkan tanda-tanda kalau dia merokok. Atau pas kita singgung tentang rokok, dia bilang kalau dia tidak merokok. Padahal di belakang kita? Nah.

Aku bisa beropini begini, karena aku pernah mengalami. Bahkan aku baru mengetahui ternyata dia perokok aktif saat setelah pacaran. Dan singkat saja, hubunganku jadi renggang cuma gara-gara masalah rokok. Begitu rapih nya cowok membodohi seorang cewek.

Aku nggak lagi merasa sok cantik atau sok alim. Aku sedang melihat dari sudut pandang dan cara pikirku sendiri terhadap rokok.

Aku pernah memikirkan tentang rokok. Bagaimana daya tarik yang sangat kuat dalam kandungannya. Bagaimana dalam sebatang itu bisa membuat orang lebih rileks. Seakan-akan rokok lah jalan pintas termudah untuk melepas beban, seperti obat penenang. Dan itu bikin candu. Bahkan ayahku sendiri bilang rokok itu obat jantungnya, karena kalau nggak ada rokok bisa jantungan. Hadeeeh…

Mereka –para pecandu rokok– nggak memikirkan dampak atau kerugian apa yang didapat setelah merokok. Jangan dulu kepikiran tentang sakit jantung, hipotensi dan lainnya. Coba kita pikir dampak yang terlihat setelah merokok; bibir menghitam, nafas beraroma tembakau, gigi menguning yang membuat mereka jadi nggak cool lagi gitu loh. Belum lagi asapnya yang malah merugikan orang sekitar. Makanya, ayahku selalu menjauh kalau lagi merokok. Asap rokok benar-benar nggak baik.

Terus, apa hubungannya sama cerita instagram story ku ya? Aku nggak tau ini ada hubungannya atau enggak. Yang jelas begini, aku ingin menyatakan diri kalau aku adalah anti rokok. Tapi bukan berarti aku membenci ayahku. Aku ulangi, bukam berarti aku membenci ayahku karena dia perokok.

Aku nggak ingin ada yang beranggapan: halah, munafik. Ayahmu aja ngerokok kok kamu sok-sok-an anti rokok!

At least, berat kukatakan kalau aku nggak pernah meminta ayahku buat merokok. Siapapun itu nggak akan ada yang mau keluarganya dalam musibah. Dan ayahku sedang dalam musibah. Lakonku disini hanyalah seorang anak. Bahkan Islam mengajarkan untuk jangan pernah membantah orang tua. Jadi, aku nggak bisa menyuruh ayahku untuk berhenti. Itu pilihan beliau, aku nggak bisa melarangnya. Yang ada aku malah berdosa. Hahaha…

Yang bisa kulakukan cuma memperingati untuk jangan merokok berlebihan. Nggak jarang kok aku bilang ke ayah, kalau lebih baik jatah uang untuk beli rokok ditabungkan saja. Dan beliau pun masih sadar diri kalau ingin mengurangi rokok. Nggak jarang pula aku kalau disuruh beli rokok 2 bungkus, cuma kubelikan sebungkus dengan alasan stoknya abis. Terlebih itu hanya untuk kesehatan beliau.

Peranku sekarang kenapa aku menjadi anti rokok adalah jangan sampai kebiasaan ini menurun ke calon imamku kelak. Kepada suamiku. Dalam artian, sudah cukup sampai ayah saja yang merokok. Untuk seterusnya, jangan. Niatku sudah baik, kan? Aku ingin mengubah pola hidup yang lebih sehat. Karena lebih baik mencegah daripada mengobati. Kalau orang sudah terlanjur jatuh hati pada rokok, kurang lebih bakal susah mencegah. Iya kan? Hehehe.

Jadi pesanku untuk cowok-cowok yang kece, berhentilah merokok karena itu akan membuat kalian terlihat jauh lebih keren! Jutaan cewek sedang menunggu kalian yang gagah dan bangga mengatakan “Nggak ngerokok aku mah, bersih!”

Tuh, kan, aku ngebayangin aja udah melted duluan. ☺️☺️✌️

Dari Aku

Barangkali, kamu memanglah hal yang membahagiakan.
Aku selalu mendoakan kebahagiaanmu, tanpa mengurangi bahagiaku.

Aku masih mengingat pertemuan pertama itu.
Sebuah masa dimana Tuhan sedang berbaik hati mempertemukan kita. Tanpa sengaja, tanpa terduga. Terjadi begitu saja.

Tentang bagaimana kita sadar akan kehadiran masing-masing, namun justru memilih untuk berkelu lidah, diam karena tidak menyangka sebelumnya.
Pertemuan itu yang mengantarkanku pada rasa yang tidak biasa kurasa, sekalipun aku menepisnya berkali-kali. Saat itu aku sadar, bahwa apapun bisa terjadi bila takdir mengizinkan untuk terjadi. Sekali lagi, tanpa kita duga.

Anehnya, semenjak itu justru kita semakin dekat. Berulang kali terheran jika dunia bisa sesempit itu. Dalam pesanmu kamu berkata bahwa kamu tidak menyangka akan pertemuan kita. Sama sepertiku yang masih terpukau atas cara kerja takdir. Begitu nyata dan sederhana.

Kita berbalas kabar meski sebatas pesan. Berbagi cerita tentang apa yang sudah kamu lewati sejak pagi hingga sore hari. Tak lupa kamu selingi dengan canda, tanpa kamu peduli disini aku benar-benar tersenyum atau tidak.

Aku mengerti, dunia memang adil dalam memberikan porsi bahagia dan sedihnya.

Lambat laun, kadar bincang kita semakin lemah. Dari yang bercanda setiap waktu, hingga hanya sebatas bertanya kabar. Sesekali aku ingin bertanya kenapa bisa sesulit ini berbicara lepas seperti dulu. Tapi aku tidak ingin kamu merasa aneh padaku.

Kita telah berjarak. Tanpa kutahu apa yang benar-benar kamu pernah rasakan oleh hadirku. Seperti yang sudah kujelaskan bahwa kita pernah sedekat itu. Bahkan aku baru saja tersadarkan, selama ini kamu tidak pernah berbagi kisah tentang siapa yang mengisi hatimu.

Kadang aku ingin tahu, sekarang kamu dimana. Sedang sibuk apa. Siapa yang menemanimu. Siapa yang menghiburmu. Karena setelah bukan aku orangnya, kuharap dia yang baik datang padamu. Karena tidak ada yang bisa kubantu selain berharap yang baik-baik untukmu.

Kamu percaya takdir?

Kekuatan kekal yang sengaja dijatuhkan Tuhan kepada mereka yang telah dipilihNya. Sungguh tidak ada yang bisa menduganya. Aku senang akan takdir pertemuan kita. Sekalipun akhirnya kita tidak dibersamakan, aku tidak akan sedih untuk itu. Karena aku percaya, seseorang yang datang pada akhirnya akan meninggalkan.

Aku tidak pernah meminta takdir mempertemukan kita lagi, tapi jika itu terjadi, kuharap kita dipertemukan lagi dalam keadaan tidak sengaja. Dan bagaimana cara kita berhubungan lagi setelah pertemuan itu, biarkan takdir bekerja dengan sendirinya dan kita hanya perlu menunggu kejutan apa yang akan diberikan.

Gresik, 21 Juli 2018

Dari aku,
Yang pernah dibahagiakanmu.